Dalam perjanjian dan ikrar rahasia di lereng gunung
Tandikat itu, telah ditetapkan bahwa tanggal 11 Januari 1833, kaum
Padri dan golongan penghulu beserta rakyat Sumatera Barat secara
serentak melakukan serangan kepada pasukan Belanda. Awal serangan rakyat
Minangkabau ini terhadap pasukan Belanda banyak mengalami kemenangan,
terutama di daerah sekitar benteng Bonjol, di mana pasukan Belanda
ditempatkan untuk melakukan blokade. Pasukan Belanda yang langsung
dipimpin oleh Letnan Kolonel Vermeulen Krieger, pimpinan tertinggi
militer di Sumatera Barat, di daerah Sipisang diporak-porandakan oleh
pasukan Padri, sehingga, banyak sekali serdadu Belanda yang mati
terbunuh. Hanya Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dan beberapa orang anak
buahnya yang dapat menyelamatkan diri dari pembunuhan itu. Karena semua
jalan terputus maka terpaksa Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dengan
anak buahnya yang tinggal beberapa orang itu menempuh jalan hutan
belantara untuk bisa kembali ke Bukittinggi.



